Presiden ke-6 RI, SBY, menyampaikan empat hal fundamental pada Peringatan 50 Tahun Prodi Ilmu Ekonomi Pertanian IPB University
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Prof. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan empat pesan penting tentang arah pembangunan ekonomi pertanian dalam Kuliah Umum 50 Tahun Program Studi Pascasarjana Ilmu Ekonomi Pertanian (EPN), FEM IPB University (6/11).
Dalam kuliah bertajuk “What Can Agriculture Do for Economic in Indonesia”, SBY menekankan empat strategi utama pembangunan ekonomi pertanian: pertumbuhan ekonomi, kemakmuran (prosperity), keberlanjutan (sustainability), dan keadilan sosial (social justice). Ia menyebut prinsip-prinsip ini bersifat universal dan relevan lintas waktu.SBY mengingatkan bahwa pembangunan ekonomi tidak hanya berorientasi pada manusia, tetapi juga harus berpihak pada lingkungan. Sektor pertanian, ujarnya, memiliki peran strategis dalam menciptakan kemakmuran, membuka lapangan kerja, dan menjaga keberlanjutan ekonomi nasional.
Rektor IPB University, Prof. Arif Satria, mengapresiasi kehadiran SBY dan Menteri PPN/Kepala Bappenas. Ia menegaskan bahwa masa depan ekonomi Indonesia sangat ditentukan oleh kekuatan riset, inovasi, kewirausahaan, dan kualitas sumber daya manusia. Indonesia saat ini berada pada peringkat 55 Global Innovation Index, dan peningkatan inovasi menjadi kunci pertumbuhan ekonomi.Arif juga menjelaskan arah transformasi inovasi IPB University dari pendekatan Industry 4.0 menuju Society 5.0, yang menekankan presisi, keberlanjutan, kemanusiaan, dan ketangguhan.
Menteri PPN/Kepala Bappenas, Prof. Rachmat Pambudy, menambahkan bahwa arah pembangunan era Presiden Prabowo berfokus pada pangan, energi, dan air, sejalan dengan visi yang telah lama beliau bangun sejak memimpin HKTI.Ketua penyelenggara, Prof. Yusman Syaukat, berharap momentum 50 tahun EPN dapat memperkuat kontribusi ekonomi pertanian dalam menghasilkan riset yang aplikatif dan berdampak bagi masyarakat.
Selama lima dekade, Prodi Pascasarjana EPN telah melahirkan lebih dari 500 doktor dan 1.000 magister yang berkiprah di berbagai sektor, berkontribusi pada kebijakan pertanian, ketahanan pangan, keberlanjutan lingkungan, dan keadilan sosial.Peringatan ini menjadi momen refleksi sekaligus peneguhan komitmen untuk memperkuat kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan organisasi profesi dalam menghadapi tantangan globalisasi, digitalisasi, dan perubahan iklim.
